Minggu, 05 Juni 2011

::: MASIH TENTANG AYAH :::



5 (lima) bulan berlalu tanpamu, tanpa cintamu, tanpa kasihmu, tanpa sayangmu, tanpa perhatianmu, tanpa bentakanmu, tanpa suaramu, tanpa lantunan musikmu, tanpa bau badan tubuhmu, tanpa bau asap rokokmu, tanpa senyummu, tanpa tawamu, tanpa candamu, tanpa kehadiranmu di setiap gelisahku...

Jauh kau pergi meninggalkan diriku, sulit kuraba, sulit kugapai, sulit kesentuh, sulit kulihat, sulit kujangkau, sangat sulit...

Aku benar-benar kehilanganmu... sangat kehilanganmu... aku benar-benar tak bisa dan tak biasa hidup tanpa kata-kata kasarmu, amarahmu, segala perbincangan hangatmu...

Itu kenapa aku sering mengunjungi maqam-mu "Ayah" karena disetiap nafasku, selalu ku ingat kau, tanpa sadar airmatapun menetes deras, setelah kusadari ternyata semua tentang kita telah berakhir, semua telah berubah, begitu cepat seperti kilat yang menyambar-nyambar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu...

KAU renggut dia "Ayahku" dari sisiku begitu cepat, belum sempat ku membagi kebahagiaanku yang aku rasakan saat ini, blm sempat ku membuat dia tersenyum... aku sayang dia Ya Allah... Aku Merindukan dia "Ayahku"...

Masih sangat terasa hangat canda tawamu saat aku menyuapimu makan siang dirumah sakit itu, seakan tak kau rasakan sakit yang tengah ada, kata-katamu tidak melukiskan apapun bahwa aku akan kehilanganmu secepat itu, tatapanmu masih sangat terlihat jelas saat kau menggenggam erat tanganku waktu kau merasakan sakit yang begitu hebat... masih sangat terasa... sangat... terasa...
Saat kubantu kau meminum air digelas yang ada dalam genggamanku... masih teringat jelas kau memintanya lagi dan lagi... masih kudengar isak sakitmu, teriakmu yang tiada henti sambil terus kubertanya "Yang mana Yah yang sakit?" dengan bibir hampir kaku dan bergetar "Perut Ayah sakit!!" jawabmu lirih, terus aku genggam tanganmu yang semakin melemah, tak ada satupun yang dapat merasakan sakitmu, hanya raut wajahmu yang semakin memucat, masih teringat jelas pula saat kau tak dapat lagi berkata, semakin mengkhawatirkan, semakin memucat, semakin tak peka, masih sangat terasa suara detak alat rumah sakit itu, yang terus mengganggu telingaku, masih sangat teringat jelas saat aku menggenggam tangan lemahmu yang nadinya sudah tidak lagi berdenyut, jantungmu yg tidak lg berdetak, nafasmu yg tidak lg kau hembuskan, dan kau meninggalkanku begitu saja, tak sadarkan diri...



Ayah...
Kau tau berapa banyak sudah airmata ini menetes karena kepergianmu, sejak kau pergi sampai hari ini...
Ayah...
Kau tau berapa lama aku menghabiskan waktu utk menulis kisah semua tentangmu, tidak sebentar, karena saat aku baru menulis satu kata saja, baru saja satu kata, aku tak sanggup membendung airmataku sehingga terhenti karena haru...
Ayah...
Kau tau berapa lama aku membiasakan diri hidup tanpamu, sampai hari ini tidak biasa dan tidak bisa...
Ayah...
Seandainya kau tau seberapa sanggup aku menjalani hidup tanpamu...
Tak dapat kulukiskan lagi...
Hati ini terlalu ringkih untuk mengingatnya...

Aku mencintaimu ayah, aku menyayangimu...
Aku Merindukanmu Yah, itu yang aku rasakan setiap hari...

Sekarang... Aku harus terima kenyataan pahit semua ini,
Saat dimana Bunda merasakan Rindu yang sama kepadamu "Ayah"
Saat dimana Bunda merasakan kesepian dirumah setiap kali kami "anak-anakmu" berangkat kerja untuk melanjutkan sisa hidup ini,
Saat dimana aku ingin meminta saran dengan keputusan yang akan kuambil
Saat dimana nanti aku ingin kau duduk disampingku, menjadi waliku dipernikahanku
Saat dimana nanti aku ingin mendengar kau dipanggil kakek oleh anak2 kami "anak-anakmu"
Saat dimana nanti kita berkumpul sebagai keluarga besar nan bahagia
mimpi itu semua pudar... Tidak ada lagi...

Pergi begitu saja...








-RannY-
06062011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar